Thursday, February 22, 2018

Human

Febri Swendi Indra
Manusia
Makhluk paripurna kreasi Sang Maha Pencipta
Banyak yang berbicara, menulis, meneliti tentangnya sejak dulu kala
Bahkan tidak akan berhenti sampai kiamat tiba
Faktanya akan diungkapkan dari persepsi manusia juga, ini kebanyakannya
Namun jarang manusia mengkaji manusia dengan melibatkan Allah Azza wa Jalla dalam setiap detil pembahasannya
Inilah agaknya yang jadi sebab utama kenapa manusia lebih susah bekerja sama.
Karena kita gagal memikirkan semua fakta manusia yang sesuai dengan informasi dari Pencipta.
Ternyata semua makhluk lengkap diciptakan beserta khasiatnya yang tidak akan berubah tanpa izin dari sang Maha.
Mari ubah pemikiran dasar kita tentang yang namanya manusia
Yang berkesempatan dan berkemauan boleh lah kita bertukar data dan fakta
Tinggal kita sepakati waktunya ya

Tuesday, February 20, 2018

Million viewers preacher

Syair Datuk Seri Ulama Setia Negara

Oleh: Abdul Somad, Lc. MA

Dengan Bismillah kalam bermula
Alhamdulilah pembuka kata
Shalawat dan salam sempurnalah makna
Yang kecik dibina yang besar mulia

Abdul Somad aku bernama
Selesai belajar di Negara Narasinga
Pernah singgah di IAIN Suska
Terbang menuju Bumi Seribu Menara
Melihat Sungai Nil dan Piramida
Bersua dengan Fir’aun dan Musa
Hinggap sekejap di Bumi Malaya

Akhirnya terdampar di Gurun Sahara
Hampir sampai ke Barcelona
Setelah lama mengembara
Kembali jua ke bumi tercinta
Tanah Siak Sri Indrapura
Membawa gelar LC dan MA
Banyak orang bertanya-tanya
Apalah agaknya artinya
Lagi cemas mencari anak dara

Nasehat orang tua-tua
Bernaunglah di pokok yang gagah perkasa
Batangnya jadi penyangga
Akarnya tempat bersila

Bersilaturrahim ke rumah Doktor Musthafa
Rumah putih di Jalan Gulama
Dia bawa daku sepuluh senja
Ke TVRI membawa acara
Bila ia pergi ke Malaysia
Daku duduk di singgasana
Menjadi guru sekejap mata

Subuh tiba gelap gulita
Menuju Masjid dipagi gulita
Jamaah pun tak pulak ada
Banyak pula tiang darikan manusia

Berbekal sabar dan doa
Nasib baik datang menyapa
Khutbah bergetar dari Masjid Raya
Banyak mata terpesona
Caci hamunpun ikut serta
Lovers and haters kata anak-anak muda

Ada pula yang menuduh paksa
Fitnah anti Bhineka Tunggal Ika
Diusir dari Pulau Dewata
Deportasi dari Cina
Tapi hati tak rasa hina
Semua itu belum ada apa-apanya
Bila di bandingkan Nabi Besar kita
Gigi patah kaki terluka
Namun tetap berbalas doa
Sungguh tak layak masuk ke surga
Bila busuk hati terus dipelihara

Orang Melayu cinta negara
13 Juta Gulden belanda
Diderma untuk membela bangsa
Sultan Syarif Kasim orang mulia
Dari Siak Sri Indrapura
Berdaulat ke Yogyakarta
Jangan kau ajar kami tentang cinta
Kalau bukan karna kami punya bahasa
Kau pun tak dapat bertutur kata

Dendam jangan masuk ke kepala
Masih banyak yang perlu di rasa
Anak Sakai meniti pipa
Anak Akit senyum menyapa
Talang Mamak terus menganga
Padahal minyak tiada terkira
Tapi apa yang mau di kata
Terlampau banyak diangkut ke Jakarta

Awan berarak menanti senja
Budak menuju Surau Mushalla
Qur’an di tangan dan alif  ba ta
Tak lupa rotan di belah dua
Tapi kini semua dah sirna
Semua sudah berganti rupa
Budak asik bermain Sega
Play Station warnet beraneka
Dari Batman hingga Mahabarata

Sampai Spiderman sarang laba-laba
Kalau lah tak ada usah
Budak Melayu kan hancur binasa
Melayu hanya tinggal nama
Rosak kerana Aids dan narkoba
Menjemput murka dan bencana
Wajah menjadi bermuram durja

Selepas masuk Belanda
Banyak anak tak boleh tulis baca
Huruh Arab dibuang serta
Melayu Riau boleh berbangga
Huruh Arab Melayu merata-rata
Dari Masjid hingga kantor Walikota
Tapi bila tiba saatnya
Huruf Arab hanya mantra
Dibaca saat duka cita
Atau untuk pelet wanita
Sungguh kiamat di pelupuk mata

Maka
Masuklah anak ke sekolah agama
Ada Gontor 7 dijalan ke Kampa
Darel Hikmah, Babussalam, dan Ash-Shofa
Atau IBS arah Asrama Tentara
Memang agak mahal biaya
Minimal pelajaran agama ada lima
Menjadi bekal dari muda ke tua
Andai tersesat boleh kembali semula
Mereka kan jadi pemimpin bangsa

Dari Presiden sampai Pak KUA
Kita semua akan binasa
Harta tiada di bawa serta
Anak sholih jualah yang mengalir ke kita

Malam berinai kan tiba jua
Tepak sirih merah merona
Gambir kapur dan pinang tua
Mulut mengunyah bermasam muka
Tanda lidah sedang merasa
Pahit kelat dan pedar ada
Semua mesti di telan sama
Pertanda hidup berumah tangga
Mak andam duduk memasang kenaga
Jemputan hadir saudara mara
Barzanji di baca serta marhaba
Tuan Mufti membaca doa
Air mata bahagia ayah dan bunda
Menanti cucu penyejuk mata
Disana bahagia berpunca
Tapi kini semua tak ada
Akad menjadi majelis duka
Kerana marah menghunjam dada
Rosak sudah pemudi pemuda
Amuk dan hamun mengisi acara
Mereka pun tak salah juga
Kerana diam kita lah bencana mereka

Banyak orang bertanya–tanya
Siapalah agaknya
Menulis kata-kata berbingkai makna
Menyentuh rasa hati dan kepala
Jawabannya
Siapa lagi kalau bukan Datuk Seri Ulama Setia Negara
Abdul Somad Lc. MA

Tapi bila malaikat maut tiba
Pangkat dan kuasa tak lagi bermakna
Hanya iman dan amal shalih jua
Yang akan di bawa serta
Tinggallah rumah besar bertingkap kaca
Anak menantu sahabat tetangga
Kain songket dan baju sutera
Cincin emas dan batu permata
Ruby zamrud dan mutiara
Tangan yang pernah menyapu air mata
Orang susah dan miskin papa
Kepala anak yatim tiada berbapa
Apa tanda Melayu menyapa
Lemah lembut bertutur kata
Apa tanda Melayu beragama
Takut pada Allah semata
Apa tanda Melayu bernegara
Tetes darah asal jangan hina
Kala menung datang menyapa
Saat tanah pusara sudah pun rata
Anak menantu jiran tetangga
Tinggallah diri sebatang kara

Bila sampai masanya tiba
Anak berbisik ke pangkal telinga
Buah hati belaian jiwa
Mizyan Hadziq Abdillah putera teruna
La ilaha illallah ‘azza wa jalla.

Monday, February 19, 2018

Keep clean, please

Jangan Nyampah

Salah satu yang buat saya sangat kesal saat di jalan, ialah ada orang yang buang sampah sembarangan. Andai bisa dan boleh, orang seperti ini dipenjara saja

Jangan lihat sepelenya perbuatan, atau besar kecilnya sampah yang dibuang, tapi lihat mentalnya, mental semisal inilah yang menginspirasi kekacauan yang lain

Pertama, egois. Sebab dia ingin mobilnya bersih, tapi tak peduli bahwa orang lain juga ingin lingkungannya bersih. Masa bodoh, dia pikir sampahnya hilang begitu saja

Kedua, pikiran pendek. Dia tak lagi berpikir efek lanjutannya. Selesai begitu dia membuang sampah. Perkara merusak pemandangan dan lingkungan, tak peduli

Ketiga, merendahkan orang lain. Nanti juga ada yang bersihkan, itu pikirnya. Dia merasa lebih hebat, lebih layak, lebih berhak, sudah bayar pajak, boleh tinggalkan jejak

Keempat, tak bertanggung jawab. Jelas sekali, mau makan tidak mau membersihkan, mau memanfaatkan tissue tapi tidak ingin membuangnya dengan layak

Kelima, sekurang-kurangnya, adalah orang bodoh, sebab tak mau mencari tahu, mengapa membuang sampah sembarangan itu adalah sesuatu yang tidak terpuji

Jadi jangan berpikir ulang bila calon pasangan atau calon menantu anda termasuk tukang nyampah, langsung ditolak saja, sebab tak ada masa depan pada orang begini

Sebab Islam justru sebaliknya, peduli pada orang lain, berpikir hingga ke akhirat, menghormati orang lain, bertanggung jawab dan sangat haus dalam perkara ilmu

Itulah mengapa mereka yang Muslim senantiasa diminta untuk memperhatikan kebersihan bahkan keindahan. Bagaimana tidak buang air kecil saja harus istinja

Sayangnya pelaku nyampah ini justru Muslim yang banyak melakukan. Mengapa? Karena mereka tidka mempraktekkan agama. Karena tak serius dalam Islam

Mudah-mudahan yang membaca curhatan saya ini, lebih bertanggung jawab pada Islamnya, jaga lingkungan, jangan nyampah. Kecil tapi berarti sekali

Islam kita sangat indah. Surga pun digambarkan begitu indah. Maka jagalah dari sekarang, agar kita kelak layak untuknya. Jangan nyampah, itu bagian syariah

Sunday, February 18, 2018

Love is hurts

Sebuah Ibrah Tentang Cinta
Malam ini, saya sedang sibuk mengetik di depan laptop ketika ada sebuah sms masuk ke hape saya. Dari seorang sahabat, yang kebetulan adalah Ustadz saya tempat saya menimba ilmu. Beliau memulai sms itu dengan pertanyaan yang sulit dijawab: Sibuk atau tidak, tanya beliau. Saya jawab diplomatis, bisa iya bisa tidak (hehehehehe, soalnya pertanyaan itu artinya pasti mau minta tolong, dan mana ada seorang murid yang mampu menolak permintaan tolong Ustadznya, meski sedang sesibuk apapun).
Berlanjut sms-an dengan beliau, ternyata beliau meminta saya menuliskan sebuah kisah yang cukup mengerikan, agar menjadi ibrah bagi pengemban dakwah lain. Mengerikan karena ini kisah tentang akhwat pengemban dakwah, yang terjerumus ke lubang biawak maksiat, hanya dikarena satu hal : C.I.N.T.A (bolehlah kalau mau mengejanya dengan nada milik band metal –melayu total- D’Bagindaz.)
Hm, masih berbau-bau bulan Februari dengan tanggal khasnya, 14 (Hayo hari apa itu ? jawab aja hari Rabu, wkwkwkwkwk). Jadi masih sangat cocok untuk membahasnya sekarang. Bagaimana kisah selanjutnya ? Saya akan uraikan dibawah berikut.
Alkisah ada seorang perempuan hebat asal Bumi Wali dikenal memiliki ilmu agama yang baik. Bacaan Al Quran nya istimewa, suaranya ketika membaca Al Quran-pun mampu meluluh lantakkan setiap hati pendengar yang haus akan keindahan Al Quran. Hanya, dia belum mengenal aktivitas dakwah, sebelum kemudian ada seorang ustadzah yang mengontaknya dan mengubah cara pandangnya terhadap masalah keumatan.
Dalam sekejap, seperti sebuah intan yang baru digosok, berubahlah perempuan ini menjadi sosok yang aktif dalam dakwah. Perhatiannya terhadap umat begitu kuat, aktivitasnya setiap hari adalah dakwah, status-status FB-nya indah menggetarkan hati, dan tentu saja, cara berpakaiannya serta merta berubah, begitu anggun, begitu tertutup, kerudung panjang dan jilbab yang lebar.
Dia begitu larut dalam dakwahnya, hingga sebuah godaan datang. Godaan yang bagi perempuan-perempuan yang tidak aktif dalam dakwah, adalah hal yang biasa. Apa itu ? berkenalan dengan seorang cowok “gaul”. Yah, mirip-mirip masbrow yang di sinetron. Dialah yang mampu sedikit mengusik perhatian perempuan yang kini telah menjadi “akhwat” ini dari aktivitas keumatan. Mereka berinteraksi, mungkin awalnya diskusi-diskusi, makin akrab, makin dekat, makin mesra, hingga kemudian, sudah susah dibedakan antara interaksi itu dengan term “pacaran”. Tentu saja, ketika diingatkan teman-temannya, akhwat ini berdalih, taaruf, meski lebih cocok disebut pacaran “islami” (sori, gak nemu istilah yang tepat. Maksud saya adalah, pacaran yang diawali dengan diskusi-diskusi keislaman).
Selanjutnya, seperti kisah di sinetron kejar tayang, hubungan mereka sudah makin gak bisa disebut taaruf. Makin gak jelas, mana taaruf, mana diskusi, mana pacaran. Puncaknya, tibalah waktu yang dirasa perlu oleh Ustadzahnya turun tangan. Diingatkan sekali, Cuma ngangguk, dingatkan dua kali, Cuma mesem, diingatkan tiga kali, putuslah sudah. Ngajinya dihentikan.
Sayangnya, peringatan yang sangat keras ini, (dihentikan ngaji itu peringatan keras loh sodara-sodara, karena itu berarti Antum bikin kesalahan syariah yang berat!) ditanggapi dingin oleh sang akhwat. Pelan-pelan tapi pasti, ideologinya mulai luntur. Ketaatannya pada syariah makin merosot, diawali dengan berhenti ngaji, kemudian berlanjut luntur pula kerudung panjang dan jilbabnya. Kembali lagi ke kerudung seksi menggoda. Status –status Fbnya jadi sok romantis, cinta-cintaan melulu. Sungguh jauh berbeda dengan status yang dia buat ketika masih aktif ngaji. Belakangan, kerudungnya ikut lepas, baju panjangnya pun lepas, berganti dengan u can see (my ketiak) dan hot pants.
Dengan tidak lagi ada pengawasan dari teman-teman dakwah dan Ustadzah, akhwat yang telah luntur ini, makin jatuh kepelukan cowok “gaul” tadi. Udah gak ada lagi belenggu – belenggu yang menghambat kebebasan berinteraksi sebagaimana dirasakannya dulu, makin cinta, makin mabuk kepayang, makin intens, makin terbudakkan oleh nafsu, daaaaannnn, laluuuuu, (astaghfirllah hal adzim)... hamil diluar nikah.
Doer!!!!! Kaget, buanget!!! Hanya saja, kemudian terjadilah hal yang paling klise. Bukannya “tanggung jawab” (lagi-lagi terpaksa pake term itu. Meski sebenarnya gak setuju . Gimana bisa dikatakan tanggung jawab kalo beraninya ngehamilin di luar nikah ? Tanggung jawab itu menikahi dulu bukan menghamili dulu. Setuju ?) si cowok itu malah menghilang tak tentu arahnya.
Tinggallah si akhwat ini, meratapi apa yang telah terjadi. Kalau kata Bondan Prakoso dan Fade 2 Black, Ya Sudahlah. Menyesal memang selalu di akhir cerita. Dan, kayaknya gak perlu saya tulis disini kelanjutan ceritanya, karena toh yang perlu menjadi ibrah bagi kita adalah bagaimana kita harus hati-hati dalam menghadapi godaan-godaan. Gharizah Nau, atau Cinta tadi, memang sesuatu yang sudah built in didalam tiap manusia. Tapi ketika kecintaan kita kepada lawan jenis itu melebihi cinta kita kepada Allah dan RasulNya, maka siap-siaplah cinta semu itu menerkam kita kedalam jurang kerusakan dan kebinasaan.
Tak lupa, di akhir kisah ini, mari kita doakan semoga akhwat tadi itu kembali ke jalan yang lurus, dan kembali menyadari jati dirinya sebagai muslimah yang harus taat kepada Allah dan RasulNya.
Aamiin....
(Based Upon The True Story 2011, ditulis, diedit dan sedikit di dramatisir menjadi kisah oleh Irfan Abu Jundi)

I was a gamer

Ustadz Felix Siauw
Permainan Kesia-siaan
Game itu kelalaian, kecuali bila kamu memang hidup mencari nafkah dari sana, itupun dipertanyakan seriusnya engkau dalam mencari nafkah
Kita tahu game itu menghabiskan waktu, bahkan pada yang sampai pada level kecanduan, game itu menghabiskan uang juga
Mencapai level tertentu, menaikkan stats, mendapatkan senjata yang tak semua orang punya, sayangnya semua hanya di dunia maya
Semua itu hanya kebanggaan saat kita bisa log-in di gamenya saja, tapi di dunia nyata, nol. Kita menumpuk amal fatamorgana
Terkadang kita ingin berhenti, tapi sayang akunnya. Kita katakan, nanti kita berhenti main game kalau sudah sampai satu titik, itu alasan saja
Semakin jauh kita melangkah, semakin sulit kita kembali. Satu langkah maju, artinya satu langkah lagi untuk kembali ke titik awal
Sehari lagi kita bertahan pada game yang kita suka, maka lebih susah lagi kita untuk sembuh dari kecanduan. Game memang dibuat begitu
Mirip-mirip maksiat. Selalu kita dapat alasan untuk menunda taubat, untuk menunda hijrah. "Ini yang terakhir", Selalu itu yang kita katakan
Padahal semakin dalam menggali lubang, semakin sulit pula kita memanjat naik. Begitulah nyatanya segala sesuatu yang melalaikan
Sebab saya pun pernah kecanduan game, pernah menjadi begitu. Tapi yakinlah, pada ujungnya adalah penyesalan dan penyesalan
Mengapa tidak waktu yang banyak itu kita gunakan untuk sesuatu yang benar-benar bisa kita banggakan, persiapan untuk akhirat?
Andai level-level itu disamakan dengan juz dalam Al-Qur'an, atau bahkan hanya jumlah surat dalam Kitabullah. Beruntungnya kita
Andai jumlah jam yang sudah kita investasikan dalam game, 1 jamnya untuk 1 hadits saja. Mungkin saya sudah setara Doktor Hadits
Mari hidup semakismal mungkin. Jangan sampai ada penyesalan lagi, manfaatkan hidup selagi ada, bersiap untuk mendapatkan surga ☺️☺️☺️

Delete the free interaction

Gaul Bebas? Coret!

Pertemanan lintas gender alias gaul bebas udah jadi menu keseharian remaja en remaji. Gak di sekolah, gak di rumah, udah biasa aja temenan dengan lawan jenis. Biar eksis dan nggak dianggap alien alias makhluk asing oleh temen sebaya. Karena kalo jaga jarak, alamat dikucilkan dari pergaulan dan bagi remaja itu rasanya nggak nyaman.
Namanya temenan dengan lawan jenis, pastinya nggak sekedar menjalin persahabatan. Kita udah paham kalo laki perempuan itu diciptakan untuk saling tarik menarik satu sama lain layaknya dua kutub yang memiliki muatan magnet. Semakin dekat, semakin kuat tarikannya satu sama lain. Awalnya sih cuman temenan, kelamanan jadi demenan. Pepatah jawa bilang, witing trisno jalaran soko kulino. Rasa cinta mendadak menyeruak dalam kalbu lantaran keseringan ketemu. Ini yang berabe.

Temenan Jadi Demenan
Remaja emang paling betah temenan dengan lawan jenis. Selain menumbuhkan rasa kebersamaan, juga melahirkan rasa simpati, terus empati, lama-kelamaan mulai tumbuh benih-benih cinta di hati. Akhirnya, jatuh hati. Makanya agak-agak mustahil kalo temenan ama lawan jenis itu nggak ada affair. Soalnya banyak yang ngakunya teman tapi tingkahnya kayak orang yang pacaran. Teman tapi mesra.
Emang bukan perkara aneh kalo remaja temenan ama lawan jenis. Dalam kacamata orang tua, dinilai bagus buat menepis kekhawatiran kalo anaknya penyuka sesama jenis (hiii…..). Dalam kacamata psikologi, dianggap penting sebagai ajang sosialisasi untuk perkembangan jiwa remaja. Dan bagi remaja sendiri, jadi keharusan biar ada tempat buat menyalurkan masa pubertasnya. Temenan sekalian nyari demenan. Maunya!
Namun dalam kacamata Islam, temenan dengan lawan jenis berarti membuka pintu masuknya virus merah jambu. Meskipun kita bilang bisa menguasai perasaan, yang udah ngalamin bilang akhirnya perasaan yang menguasai kita. Apalagi kalo temennya punya tampang eye catching, kalo ngobrol nyambung, dan care banget. Langsung deh, tadinya temenan jadi demenan. Kalo pun nggak jadian, tapi sering keliatan mesra-mesraan. Waspadalah!

Pacaran, Potret Pergaulan Bebas
Belon afdhol kalo udah demenan tapi nggak ada ikatan. Khawatir disalip teman, pujaan hati harus segera dimiliki. Rasa cinta udah semestinya dikasih ekspresi. Kalo udah saling cinta, nggak perlu lagi kode. Langsung gaspol!
Siapkan rencana untuk sebuah momen tak terlupakan. Sebuah ‘aksi penembakan’ yang menjadi saat-saat menegangkan bagi para aktivis pacaran. Soalnya, penting banget buat kelanjutan hubungan kasihnya dengan pujaan hati. Kalo ditolak, hubungan cukup sampe level teman (temen apa TTM?). Kalo diterima, yes! Hubungan bisa lanjut ke yang lebih serius. Maksudnya, serius menuju pelaminan? Eits, jangan asal nuduh dong. Maksudnya, serius merhatiin isi dompet pacar. Dan pastinya, serius ngenal pacar luar dalam. Nah lho? Kaya servis mobil aja luar dalam. Hoeks!
Kalo udah jadian, tak sungkan lagi untuk body contact. Bagi orang pacaran, seolah ada aturan tak tertulis yang ’mengizinkan’ mereka untuk saling bersentuhan secara fisik. Mulai dari ’kegiatan biasa’ seperti pegangan tangan, cium kening, plus pipi kiri dan kanan hingga yang mendekati zina seperti pelukan, saling membelai, kissing, necking, atau petting. Kalo udah gini, setan bersorak ngerasa sukses telah menjerumuskan keturunan Adam dan Hawa pada gelimang dosa.
Nggak ketinggalan, keseharian orang pacaran selalu pengen berdua-duaan dengan pasangannya. Dimana saja, kapan aja. Dalam keramaian maupun melipir ke pojokan. Biar bisa ngobrol lebih bebas dan intim diselingi canda tawa mesra yang kian mendekatkan hubungan cinta mereka. Pihak ketiga yang mau ikutan nimbrung, mesti izin dulu. Kecuali setan kali yaa. Soalnya setan kan nggak keliatan, jadi bisa dengan mudah menyelinap diantara mereka dan menggoda hati keduanya untuk mendekati zina.
Dari aktifitasnya, keliatan banget kalo pacaran itu jadi potret pergaulan bebas remaja. Bergaul lebih dekat dengan lawan jenis yang belum halal dalam kacamata Islam. Kalo udah halal mah, seintim apapun pergaulannya insya Allah berkah. Lah, kalo cuman diikat oleh emosi dan tanda cinta sebatas lisan, nggak ada hitam di atas putih, gampang putus nyambung kaya tali jemuran. Hati-hati ah!

Ajang Baku Syahwat
Udah bawaan dari lahir kalo kita punya kebutuhan biologis. Ekspresi naluri mempertahankan keturunan melahirkan ketertarikan pada lawan jenis. Tak sekedar rasa cinta tapi hingga pada pemenuhunan naluri seksual. Makanya, islam menjaga pergaulan antara lawan jenis kalo belum halal. Biar syahwat bisa kita kendalikan. Bukan malah mengendalikan kita.
Aktifitas pacaran itu menjadi ajang baku syahwat. Karena peluang untuk bermaksiat terbuka luas. Ikatan pacaran seolah jadi pembenaran untuk mengekspresikan cinta dari sekedar ucapan hingga hubungan badan. Kalo sudah berduaan, jadi lupa daratan. Lantaran termakan godaan setan. Mendekati zina pun tak sungkan.
Survei PKBI, bahwa 63% remaja di beberapa kota besar telah melakukan seks pranikah. Survei yang dilakukan juga menyebutkan perilaku seks bebas remaja yaitu perilaku ciuman 21.0%, perilaku pelukan 36.7%, perilaku memegang organ reproduksi 9.9%, keinginan berhubungan seksual 9.9%, perilaku petting 1.4%, perilaku intercost atau hubungan seksual 1.1%. (PKBI, 2015).
Survei RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2017 yang dilakukan oleh BKKBN menunjukkan kalo remaja laki-laki maupun perempuan mengaku pertama kali punya pacar di usia 16 tahun. Mereka yang punya pacar kebanyakan mengaku pernah melakukan hubungan seksual dibanding remaja pada umumnya. (tribunnews.com, 01/11/17)
Sudah jelas banget kalo pacaran yang notabene perilaku gaul bebas itu telah menjadi ajang baku syahwat. Meski bilangnya bisa jaga diri, kenyataannya makin lama berhubungan makin mudah terjerumus dalam kemaksiatan. Apalagi kalo udah ketemu momen spesial seperti hari kasih sayang. Pasangan remaja berduyun-duyun merayakan dengan bebas tanpa batas sebagai ekspresi cinta. Padahal modus!
Romantisme dalam perayaan VD memancing para aktivisnya untuk jor-joran dalam mengekpresikan cinta pada pasangannya. Apalagi gaya hidup permisif alias serba boleh dalam berperilaku makin mewabah di kalangan remaja. Sehingga perayaan VD kian hari tak sekedar tukar kado atau candle light dinner aja. Tapi udah menjurus ke arah erotisme dan seks bebas. Nah lho!
Bukan nuduh, cuman fakta di lapangan sepertinya mengiyakan. Yang paling keliatan, adanya peningkatan jumlah pembelian alat kontrasepsi kondom yang didominasi remaja menjelang malam valentine. Pantauan Radar Bekasi, di beberapa minimarket diketahui pembelian kondom meningkat sekitar 30 persen. Rata-rata pembeli kondom masuk dalam kategori remaja atau ABG. (http://jabar.pojoksatu.id/bekasi/2017/02/14/)
Ketika pergaulan bebas merajalela, penyakit sosial akan ikut meramaikan. Banyak kita temukan remaja yang notabene pelajar kedapatan hamil diluar nikah. Akibat pacaran yang kebablasan. Nggak heran kalo data BKKBN 2013 lalu menyebutkan sebanyak 20,9 persen remaja di Indonesia mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah. Ngeri!
Parahnya, ketika ngerasa belum siap untuk punya anak, tak sedikit remaji yang nekat mengaborsi bayi yang dikandungnya. Data Pusat Unggulan Asuhan Terpadu Kesehatan Ibu dan Bayi pada 2013 juga menyebut, sekitar 2,1 – 2,4 juta perempuan setiap tahun diperkirakan melakukan aborsi. Sebanyak 30 persen di antaranya dilakukan remaja. 
Belum lagi rasa malu yang ditanggung remaji ketika terbongkar aibnya hamil diluar nikah. Ngerasa tak suci dan ujung-ujungnya terjun dalam dunia prositusi. Makin terjerumus dalam gaya hidup seks bebas yang rawan penyebaran penyakit menular seksual hingga HIV/AIDS.
Orang tua, keluarga, pihak sekolah maupun teman sebaya sangat punya alasan untuk terus mengingatkan remaja agar menjauhi pacaran. Terlebih kita sebagai seorang muslim, tak ada celah sedikitpun bagi remaja untuk menjalin asmara sebelum merit dalam ikatan pacaran. Karena dari awal, Islam sudah punya aturan super komplit untuk menjaga pergaulan antar lawan jenis biar nggak bebas.

Gaul Bebas Mengundang Bencana
Gaul bebas di kalangan remaja tak bisa dianggap biasa. Usia puber tak seharusnya jadi pemakluman terhadap ekspresi rasa suka di antara mereka dengan berpacaran. Orangtua pun tak perlu khawatir jika putra atau putrinya tak punya pacar. Boleh jadi mereka tengah menjaga kemuliaannya di masa muda untuk meraih kebaikan di masa tua.
Yang perlu kita khawatirkan justru ketika gaul bebas kian merajalela. Karena akan mengundang bencana. Tak hanya pada pelakunya saja yang bisa terjangkit penyakit menular seksual atau wabah hiv/aids. Tapi juga seluruh masyarakat akan terkena akibatnya jika mendiamkan.
Imam Ibnul Qayyim mengingatkan, “Tidak diragukan lagi bahwa membiarkan kaum perempuan bergaul bebas dengan kaum laki-laki adalah biang segala bencana dan kerusakan, bahkan ini termasuk penyebab (utama) terjadinya berbagai melapetaka yang merata. Sebagaimana ini juga termasuk penyebab (timbulnya) kerusakan dalam semua perkara yang umum maupun khusus. Pergaulan bebas merupakan sebab berkembangpesatnya perbuatan keji dan zina, yang ini termasuk sebab kebinasan massal (umat manusia) dan wabah penyakit-penyakit menular yang berkepanjangan.”
Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata, “Jika perbuatan zina telah nampak (tersebar) di suatu negeri maka Allah akan membinasakan negeri tersebut.”
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz lebih menegaskan hal ini dalam ucapan beliau, “Dalil-dalil (dari Al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alahi wasallam) secara tegas menunjukkan haramnya (laki-laki yang) berduaan dengan perempuan yang tidak halal baginya, (demikian pula diharamkan) memandangnya, dan semua sarana yang menjerumuskan (manusia) ke dalam perkara yang dilarang oleh Allah.
Selain keluarga dan sekolah, negara juga sangat berkepentingan untuk menghentikan gaya hidup gaul bebas. Negara yang bisa menghentikan tayangan-tayangan remaja yang menyajikan keseharian publik figure yang erat dengan pergaulan bebas. Negara yang bisa memberikan sanksi yang tegas pada pelaku zina biar pelakunya kapok dan masyarakat jadi tercegah untuk berbuat hal yang sama.
Terlebih, kita selaku remaja muslim mesti berani katakan tidak pada gaul bebas. Jaga jarak dengan lawan jenis kecuali dalam interaksi yang diperbolehkan. Bentengi diri kita dari bisikan setan dan godaan media yang memprovokasi remaja untuk dekat dengan lawan jenis. Gaul bebas? Coret! [@Hafidz341]

Thursday, February 15, 2018

Choices is yours

Pilihan Untukmu Muslimah

Seorang lelaki yang ringan tangannya untuk bermaksiat, mudah lisannya untuk melaknat, dan itu sebelum dia menikah. Maka adakah jaminan setelah menikah dia berubah?

Dia yang berani memegang tanganmu, mengumbar rayuan bagimu, padahal belum menikahimu. Apa jaminan ia tak melakukan itu pada wanita lain setelah menikahimu?

Pacaran dan selingkuh itu esensinya sama, sama-sama dosa, sama-sama pegang tangan yang belum halal, merayu padahal belum akad, sama-sama maksiatnya

Maka lelaki yang mudah bermaksiat sebelum menikah, maka dia akan cenderung lebih mudah lagi bermaksiat setelah menikah. Karena maksiat itu candu, terus-menerus

Mereka yang terus bermaksiat, terlatih kehilangan rasa takut pada Allah. Bisa anda bayangkan berumah tangga dengan orang yang tak takutkan Allah? Masalah menanti

Berbeda dengan lelaki yang menjaga pikiran, pandangan, dan kehormatannya. Bukan karena tak laku atau tak bisa, tapi karena enggan bermaksiat, takut Allah

Lelaki begini, saat jadi suami juga takut Allah. Ia takut khianat pada akad yang dia ucapan dengan membawa nama Allah. Maka engkau akan dijaganya, dimuliakan olehnya

Ia mengambil dirimu dari orangtuamu dengan nama Allah. Maka ia akan menggantikan peran ayah ibumu dengan apapun yang dia miliki, dia berikan yang terbaik dari dirinya

Dipilalhkan harta halal bagimu, dipilihkan kehidupan terbaik bagimu, dengan ilmu engkau dibimbing, dengan kelembutan engkau dididik, diatas syariat rumahtanggamu dibangun

Kelak saat engkau bermasalah dengannya, dia takkan kasar, dia takkan jahat. Kepergiannya tak mencurigakan, bersamanya menenangkan, sebab Allah selalu diajak serta

Manakah jalan yang engkau pilih Muslimah hamba Allah? Adakah kebahagiaan yang Allah janjikan dalam taat, atau kesengsaraan yang pasti sebab maksiat?

#UdahPutusinAja
#AlFatihStudios

Credit to @AlFatihStudios, artwork oleh mas @yafieg, thanks to both of them 🙂🙂🙂