PAKET DEMOKRASI
Prof. Fahmi Amhar
Dunia Barat tampak maju setelah menghidupkan demokrasi,
sistem warisan Yunani kuno yang lama terpendam otokrasi.
Otokrasi adalah dari raja, oleh raja, untuk raja negara ini.
Mereka kadang bersekongkol dengan rezim theokrasi,
agamawan yang merasa wakil Tuhan dan berhak menghakimi,
yang menindas para ilmuwan yang dituduh telah menodai,
dan kepada rakyat jelata yang miskin dan terzalimi,
hanya menyuruh bersabar dan berdoa agar diampuni,
karena kebahagiaan mereka bukan di dunia tapi di surga nanti.
Karena itu demokrasi mengambil semboyan abadi:
dari rakyat - oleh rakyat - untuk rakyat, atau lebih baik mati!
Hukum harus dibuat sesuai kehendak rakyat saat ini.
Hukum dijalankan oleh penguasa pilihan rakyat negeri.
Dan manfaat hukum itu dirasakan oleh rakyat sampai nanti.
Tetapi itu sebatas tataran teori.
Kualitas hukum ditentukan kualitas rakyat yang beropini,
yang sering sudah dimanipulasi oleh media dan selebriti,
hasilnya hukum yang mudah berubah, sulit dijadikan referensi,
muncul jual beli pasal yang berujung ke Mahkamah Konstitusi,
itupun boleh jadi ketuanya kena kasus korupsi !!!
Dan sejauhmana rakyat memiliki pilihan sejati?
Ketika siapa yang dicalonkan sudah dijaring mafia investasi,
siapa yang akan memberikan "return" terbesar akan dimodali,
pencitraan habis-habisan di seluruh media negeri,
lengkap dengan dukungan ulama dan intelektual berdasi.
Dan manfaatnya, siapa sesungguhnya penikmat demokrasi?
Tak selalu rakyat, tetapi para penghisap kekayaan negeri.
Korporasi jahat yang oleh demokrasi justru difasilitasi,
yang bisnis haram atau curangnya dilegalisasi,
baik mereka dari dalam maupun dari luar negeri.
Apakah ini khas negeri gemah ripah loh jinawi ini ?
Tidak! Maka lihatlah sejarah negeri-negeri.
Austria 1938, secara demokratis bergabung dengan Jerman-Nazi.
Jerman 1991 menghapus perlindungan eksil yang ada di konstitusi.
Serbuan ke Afghanistan dan Irak itu didukung penuh demokrasi,
dari negara kampiunnya, USA, walau penuh kontroversi.
Namun faktanya, congress memberi dana, dan Bush terpilih lagi !
Perang Irak itu oleh "rakyat" USA mungkin sangat dinikmati,
bahwa itu menghancurkan rakyat Irak, ah mana peduli.
Maka itu sangat beda dengan sistem pemerintahan yang islami !
Dalam Islam bukan "dari rakyat, oleh rakyat untuk rakyat" yang diyakini,
namun "dari Allah, oleh rakyat, untuk seluruh alam" yang hakiki.
Dari Kitabullah dan Sunnah Nabi lah hukum harus digali,
dikembangkan sesuai tuntutan zaman oleh mujtahidin penuh empati,
djalankan oleh sosok pilihan rakyat - ya hanya di poin ini mirip demokrasi,
namun manfaatnya ditujukan ke seluruh alam, tak cuma buat anak negeri.
Itulah sistem pemerintahan Islam, Khilafah Rasyidah yang ditunjuki,
sehingga peradaban emas muncul dari seluruh negeri,
tak hanya bangsa Arab, tetapi bahkan sampai negeri majusi,
mereka tidak dijajah, tetapi dibuat merdeka yang sejati,
merdeka dari kegelapan, menuju Cahaya Ilahi.
Maka Saudaraku, berhati-hatilah dengan demokrasi !
Meski kalian hanya menjadikan alat menuju kekuasaan yang islami,
mereka tak ingin kalian berkuasa lalu berhenti,
mereka tak ingin demokrasi sekedar prosedur tetapi pada substansi.
Karena demokrasi itu sejatinya satu paket yang tak bisa diisolasi.
Di dalamnya ada sekulerisme: memisahkan agama dari persoalan negeri.
Ada liberalisme: kebebasan kita hanya oleh kebebasan orang lain dibatasi.
Ada pluraslime: kebenaran itu tak boleh diklaim dan dimonopoli.
Ada kapitalisme: biarlah tangan-tangan gaib mengoptimasi ekonomi.
dan ada imperialisme: di masa lalu "gold - gospel - and glory",
atau sekarang "food - fun - and fashion" di masa globalisasi.
Maka kini tampak jelas Saudaraku, mana yang akan kau adopsi,
apakah demokrasi yang hanya utopia dan ilusi ?
ataukah sistem pemerintahan Islam yang dicontohkan jelas oleh Nabi !
.
Wednesday, February 7, 2018
Poetry for democrazy?
Next start from now
KERUSAKAN GENERASI, TANGGUNG JAWAB SIAPA?
© doni Riw
Tahun 2017, tercatat setidaknya ada 178 kasus pembuangan bayi, yang diaborsi pasti lebih banyak lagi.
Tawuran, pemalakan, juga yang mutakhir; pembunuham seorang guru oleh murid sendiri.
Tindakan menyimpang yang dilakukan satu orang, boleh jadi itu masalah personal.
Namun realitasnya, fenomena itu merata.
Artinya; ada sesuatu yang salah di sini.
Namun salah siapa?
Sejatinya kurikulum kita menunjukkan cita-cita yang ideal. Kombinasi antara ilmu dan moral.
Tapi, tercapaikah?
Jadi apa yang salah?
Remaja itu semacam spoon. Memiliki daya serap tinggi.
Tapi tak bisa memilah yang musti diserap. Air bersih atau kotor?
Nyatanya, air paling dekatlah yang diserap, tak tau bersih atau pun kotor.
Generasi hari ini menyerap jutaan informasi tak hanya dari sekolah.
Mereka menyerap dari film, komik, game, novel, lagu, infotainment, skandal politisi, dlsb.
Sekolah hanya bagian kecil yang paling tidak menarik untuk diserap.
Jujur saja, seberapa menarikkah presentasi pelajaran sekolah di depan para siswa?
Sudahkah lebih menarik ketimbang game android atau film pacaran dilan?
Kita layak bersedih, hal-hal buruk itu terkemas jauh lebih indah ketimbang pelajaran sekolah.
Film-film pacaran itu digarap begitu menarik, sehingga remaja menyerapnya sebagai aktivitas kasih sayang yang luhur.
Sayang, hasilnya adalah pembuangan ratusan bayi.
Game kekerasan itu dikemas begitu realistis, gratis, dan praktis.
Sayang ujungnya pemukulan murid pada guru hingga tewas.
Mengapa seluruh produk perusak mental itu digarap begitu serius?
Jawabnya, karena itu mesin uang bung.
Dalam sistem kapitalis, semua orang bebas mengeksploitasi apapun.
Kapitalis bisa terus melenggang karena dilindungi undang-undang produk demokrasi.
Lebih menyedihkan lagi, Islam yang memiliki standar kehidupan luhur justru dilabeli radikal.
Sistem Islam yang sempurna mengatur kehidupan individu hingga negara, dilabeli extrem.
Kita berduka atas kerusakan generasi, tetapi di saat yg sama, terus menjaga dan menghidupi sistemnya.
.
Jogja 7218
.
***
.
te.me/doniriw_channel
fb.me/doniriw
ig @doniriw
Tuesday, February 6, 2018
Poetry for Papua
PAPUA YANG BERBEDA
(c) Fahmi Amhar
Pulau Papua itu sangat besar Saudara !
Luas bagian Indonesia 4 kali luas Pulau Jawa.
Tapi penduduknya hanya sekitar 5 juta jiwa saja !!!
Tersebar dalam jumlah dan kualitas tak merata.
Di bagian yang sudah digarap rapi, ya kaya sejahtera.
Hamparan sawah menghijau mirip di Karawang, ada !
Tambang emas yang kesana naik helicopter, ada !
Namun yang mati busung lapar, sayangnya juga ada.
Di Papua kita lebih makmur dari PNG, negeri tetangga.
Ketika bertugas ke sana, Merah Putih begitu terasa.
Ini negeri warisan leluhur dan titipan anak cucu kita.
Haram kita telantarkan, dan tak perlu membuat kita gila !!!
#puisiFahmiAmhar
Habits is created
*Tausiyah Senja*
*Membentuk Kebiasaan Hidup Positif*
Assalamu'alaikum
Saudaraku seiman, Perlu kita pahami bahwa keadaan kita saat ini adalah bagian dari hasil dari proses kebiasaan pada masa lalu.
Kebiasaan positif yang dibentuk pada masa lalu akan berdampak positif pada kehidupan saat ini dan akan menjadi pendukung kesuksesan dimasa depan.
Kebiasaan hidup yang positif akan membantu kita dalam menjalani proses kehidupan yang lebih baik. Apalagi dengan tantangan hidup yang cukup berat maka mutlak dibutuhkan revolusi mental yang konfrehensif.
Hal yang demikian itu dimulai dari kebiasaan hidup yang positif, bila tidak maka akan mengakibatkan sulitnya diri meraih perubahan.
Habit atau kebiasaan dapat terbentuk dengan praktek (practice) dan pengulangan (repeate) yang dilakukan secara terus menerus hingga akan membentuk menjadi suatu kebiasaan.
Kebiasaan yang baik ataupun buruk akan melekat didalam diri seseorang. Kebiasaan yang baik ataupun yang buruk itu akan terbawa kapan saja dan dimana saja, bahkan hingga detik - detik ajal kematian tiba.
Mari kita terus berusaha untuk merubah kebiasaan buruk dengan kebiasaan yang baik meskipun sekedar1 % tetapi dilakukan setiap hari. Salah satu kebiasaan positif seorang muslim adalah disiplin terhadap waktu terutama waktu shalat fardhu tepat pada waktunya dan berjama'ah dimesjid.
Rasulullah SAW bersabda, "Bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada. Ikutilah setiap perbuatan buruk dengan perbuatan baik karena perbuatan baik itu akan menghapuskan keburukan". (HR.Tirmidzi).
Wallahu a’lam
By : Tommy Abdillah
Monday, February 5, 2018
Young n young in heart
Felix siauw
Bijak Tua, Semangat Muda
Dalam surah Al-Kahfi, Allah sampaikan bahwa bagi mereka yang muda dan beriman, Allah akan tambahkan hidayah
Tak hanya itu, tapi juga Allah akan ikatkan hati-hati mereka, saat mereka tegak dan menyeru manusia di jalan dakwah, bahwasanya tak ada Tuhan tandingan selain Allah semata
Darah muda memang panas, khas pergerakan, panasnya menjalar hingga membangkitkan jiwa-jiwa yang merindu kebaikan, sekaligus membuat gerah pelaku maksiat, ancaman bagi kedzaliman
Saat Rasulullah masih ada, pun para pemuda ini yang selalu ingin herois, terkadang terlalu terburu-buru, tapi itulah alamiahnya, tak ada yang salah selama tetap Kitabullah dan Sunnah panduannya
Karena itulah kebijaksanaan perlu, kadang bijaksana datang bersama usia, yg terkesan lambat, hakikatnya penuh perhitungan, hasil dari lapis demi lapis pengalaman matang
Bijaknya tua memang alamiah, apalagi mereka yang berilmu, mereka tak hanya bijak tapi juga panduan, tak hanya pengalaman namun juga tuntunan. Kesabaran, perhitungan, terperinci
Rasulullah berhasil membuat keduanya padu pada masanya, menghasilkan perjuangan yang punya warna unik, terkendali dan terarah sekaligus bertenaga dan mendobrak, inilah jamaah para sahabat
Bagi kami, keberadaan mereka para ulama dengan segenap ilmu dan kebijakannya, layaknya penenang dalam hiruk-pikuk perjuangan. Semoga Allah panjangkan umur para ulama kita, dan berkahi hidupnya
Note: Beliau adalah KH. Nurcholis Mustari, cagaknya Bangil Pasuruan, semangatnya tak kalah dengan pemuda, ilmunya jangan tanya. Perjumpaan kami di Bangil, membawa pada jumpa kami di Madinah Al-Munawarrah, doakan beliau selalu ☺️☺️☺️
Yellow card for us
*BENDERA KUNING UNTUK PENDIDIKAN KITA*
_Dari Amoralitas hingga Kriminalitas_
Oleh *Dr. Ahmad Sastra*
_Ketua Divisi Riset dan Literasi Forum Doktor Islam Indonesia_
Setelah sekian lama wajah pendidikan kita disuguhi oleh aksi amoral tawuran pelajar yang merunggut nyawa pelajar, seks bebas di kalangan pelajar hingga kasus aborsi, peredaran narkoba di sekolah-sekolah, berbagai pelecehan seksual guru kepada muridnya, aksi mesum antar guru, bahkan beberapa waktu lalu ada segerombol pelajar yang melakukan pesta seks usai ujian nasional. Dan kini kita disuguhkan aksi kriminal dengan adanya penganiayaan guru Budi oleh siswanya sendiri hingga berujung kematian.
Kematian guru budi adakah gambaran kematian pendidikan. Kematian biasanya ditandai oleh bendera kuning, bendera kuning untuk pendidikan kita. Kali ini mari kita perbincangkan masalah kematian pendidikan di negeri ini. Sering orang membicarakan tentang istilah ruh yang merujuk kepada makna rahasia kehidupan. Manusia akan dikatakan mati jika tidak lagi memiliki ruh.
Bahasa sederhana ruh adalah nyawa. Namun ruh juga sering dikaitkan dengan istilah lain, semisal ruh pendidikan. Ruh pendidikan berarti nyawa pendidikan. Berarti pendidikan juga bisa dikatakan mati jika tidak lagi memiliki ruh. Kematian pendidikan akan melahirkan generasi mati, tanpa ruh. Generasi tanpa ruh adalah tatkala hatinya mati, tidak ada hubungan jiwanya dengan Allah. Lantas apa yang disebut dengan ruh pendidikan itu ?.
Ruh pendidikan bisa dikatakan sebagai eksistensi pancaran nilai ketuhanan dalam sistem pendidikan. Dengan kata lain, pendidikan dikatakan memiliki ruh jika dikaitkan dengan keberadaan Tuhan [idra’ silla billah]. Pendidikan dikatakan mati jika tidak lagi mengkaitkan dirinya dengan eksistensi Allah. Memutus hubungan dengan Allah dalam sistem pendidikan berarti hakekatnya pendidikan itu sudah mati, tidak memiliki ruh lagi.
Pancaran nilai-nilai ilahiyah dalam sistem pendidikan menjadikan pendidikan itu sebagai bagian dari ibadah dalam rangka pengabdian kepada Allah. Sistem pendidikan yang terdiri dari komponen visi, tujuan, kurikulum, guru, murid, metodologi, pembiayaan dan fasilitas harus merujuk kepada nilai-nilai ilahiyah jika ingin dikatakan pendidikan itu memiliki ruh. Karena itu visi pendidikan haruslah sejalan dengan visi penciptaan manusia oleh Allah. Melalui pendidikan seharusnya melahirkan generasi ulil albab sebagai pengejawantahan predikat penghambaan kepada Allah.
Sekulerisasi pendidikan adalah upaya sistematik untuk memutuskan hubungan pendidikan dengan Allah. Sekulerisasi pendidikan artinya upaya membunuh pendidikan itu sendiri. Pendidikan sekuler dengan demikian adalah pendidikan yang telah mati. Jika pendidikannya mati, maka guru-gurunya tak ubahnya seperti mayat. Jika gurunya mayat, maka akan melahirkan siswa yang lebih dari mayat. Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Jika pemerintahannya sekuler, maka akan melahirkan pendidikan sekuler pula, sebab ruh pendidikannya telah dibuang.
Meski tidak terlalu mengejutkan, namun gagasan akan dihilangkannya pelajaran agama di sekolah atau setidaknya porsinya sangat minim sebenanrnya akan berdampak besar bagi generasi ke depan, yakni lahirnya manusia sekuler dan bahkan ateis.
Tidak terlalu mengejutkan karena memang pendidikan di Indonesia cenderung beraliran sekuleristik dimana agama ditempatkan dalam ranah privasi. Sementara pro kontra timbul karena kekhawatiran masyarakat akan nasib generasi mendatang jika agama tak lagi menjadi perhatian pemerintah. Paradigma pendidikan sekuler sangat berbeda dengan paradigma pendidikan Islam.
Harus diakui bahwa salah satu komponen fundamental bagi kualitas sebuah bangsa adalah pendidikan. Sebagai investasi jangka panjang, sistem pendidikan akan menentukan arah dan hitam putihnya sebuah bangsa. Paradigma sebuah bangsa terhadap hakekat pendidikan akan menghasilkan karakter bangsa tersebut.
Karena itu seluruh bangsa yang ingin maju senantiasa memberikan perhatian yang serius terhadap sistem pendidikan yang dibangunnya. Pendidikan yang berkarakter akan menghasilkan bangsa yang berkarakter pula. Kehancuran sebuah bangsa adalah akibat kesalahan pandang terhadap eksistensi manusia yang dirumuskan dalam visi pendidikannya.
Islam sebagai jalan hidup memiliki paradigma yang khas terhadap pendidikan, terutama berkaitan dengan pandangan terhadap manusia, kehidupan dan alam semesta. Sebab ketiga komponen ini adalah produk hasil pendidikan. Artinya pendidikan Islam memiliki visi agung terhadap martabat manusia, kehidupan dan alam lingkungan kaitannya dengan eksistensi Sang Pencipta.
Visi agung ini dibangun dengan landasan aqidah dan spiritual berbasis Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam sistem pendidikan Islam, keduanya ditempatkan sebagai sumber nilai dan inilah yang membedakan dengan epistemologi pendidikan sekuler. Narasi pendidikan Islam adalah upaya melahirkan generasi unggul di bidang intelektual sekaligus spiritual.
Sementara paradigma pendidikan sekuler didasarkan kepada epistemologi dikotomistik dalam memandang manusia, kehidupan dan alam semesta dikaitkan dengan eksistensi kuasa Tuhan. Berbeda dengan Islam yang memandang pendidikan secara integralistik dengan nilai-nilai Islam itu sendiri. Karena itu visi, tujuan, dan kurikulum pendidikan Islam berkarakter paradigmatik.
Keberadaan manusia dalam Islam harus berbanding lurus dengan tujuan penciptaannya. Sementara filsafat pendidikan sekuler mengabaikan faktor fundamental ini. Jikapun ada nilai etika dalam pendidikan sekuler, maka hal itu dibangun bukan karena kesadaran religiusitas, namun berdasarkan konsensus sosiologis yang anti metafisik. Sekulerisme mengabaikan peran etika agama dalam kehidupan.
Ilmuwan Barat sendiri sebenarnya sangat pesimistik terhadap filsafat pendidikan sekuler yang berkarakter empirik materialistik ini. Heidegger, dalam the End of Philosophy, menggambarkan ‘akhir filsafat’ bukan dalam pengertian tidak ada lagi filsafat namun memiliki makna berakhirnya filsafat sebagai jalan metafisik. Akhir metafisis dimulai ketika klaim ontologi sebagai pondasi dunia realitas mengalami kemerosotan sehingga dunia realitas tidak lagi menggantungkan pendefinisian dirinya pada model-model kebenaran metafisik tersebut – logos, eidos, substansi, esensi Tuhan – melainkan oleh kebenaran dalam dunia itu sendiri.
Michel Foucault melihat ‘kematian’ dalam berbagai wacana (discourse) sebagai sebuah diskontinuitas (discontiunity). Foucault berbicara tentang kematian subyek (death of subject) sebagai akibat diskontiunitas dari wacana modernitas ke arah wacana lain, yang didalamnya peran subyek manusia menjadi minimalis.
Peralihan manusia sebagai penguasa dunia menjadi pengguna semata dari wacana, menggiring pada kematian manusia dalam pengertian antropomorfisme Descartes untuk diganti dengan konsep manusia wacana yaitu manusia yang dibentuk di dalam dan oleh wacana.
Dalam kematian manusia, yang ada adalah kedaulatan wacana (sovereignity of discourse) dalam merepresentasikan (manusia), yang di dalamnya subyek manusia tidak lagi memiliki kekuasaan atas dunia wacana itu. ‘Manusia’ yang merupakan penemuan filsafat Barat modern itu, tukas Foulcault, kini telah berada dalam senjakala kematian.
Berbeda secara diametral dengan pandangan Islam tentang manusia dalam wacana pendidikan dan peradaban. Islam memandang manusia adalah sebagai hamba Allah yang diciptakan untuk menjadi khalifah di bumi. Khalifah adalah status mulia dalam rangka menjaga nilai kemanusiaan, kehidupan dan alam semesta agar sejalan dengan tujuan yang telah Allah gariskan.
Karena itulah mengapa dalam QS Az Dzariyat ayat 56, Allah menciptakan manusia dengan tujuan menjadi sang pengabdi. Seluruh pola pikir dan sikap meski memiliki dimensi vertikal kepada Allah agar kehadirannya di dunia bisa menebarkan rahmat bagi alam semesta sesuai dengan tujuan diutusnya Rasulullah. Paradigma pendidikan Islam berkarakter konstruktif, sementara sekulerisme membawa efek destruktif.
Karena itu dalam sistem pendidikan Islam, manusia diwujudkan menjadi manusia yang berdimensi spiritual, bukan manusia yang berdimensi material semata. Manusia spiritual adalah manusia yang mampu mengemban amanah kekhalifahan dalam rangka membangun peradaban mulia demi mengangkat derajat seluruh manusia. Manusia spiritual adalah manusia yang memiliki kepribadian sholeh, baik kepada dirinya sendiri, kepada Allah dan kepada sesama manusia. Kepribadian salehnya dikejawantahkan dalam seluruh aspek kehidupannya.
Allah menegaskan konsep manusia spiritual yang memiliki dimensi ilahiyah, ilmiah dan alamiah dengan istilah ulul albaab. Sebagaimana Allah firmankan dalam Qur’an surat Ali Imran ayat 109-191 berikut, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ulul albaab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan Kami, Tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha suci Engkau, Maka peliharalah Kami dari siksa neraka.
Ayat ini dengan jelas menjelaskan dimensi-dimensi manusia dalam konsep Islam. Pertama, dimensi spiritual dalam arti manusia hasil didikan Islam adalah manusia yang senantiasa menjadikan Allah sebagai sumber kesadaran dirinya bahwa segala sesuatu itu datangnya dari Allah, bukan seperti yang diklaim oleh paham materialisme.
Kedua, dimensi sains dalam arti manusia dituntut untuk terus melakukan aktivitas intelektual berupa pemikiran dan penelitian atas fakta-fakta inderawi sedalam mungkin. Ketiga, dimensi kekhalifahan dalam arti bahwa pengelolaan kehidupan dan alam semesta mesti dipimpin sejalan dengan tujuan Allah menciptakan alam semesta. Akhirnya pilihan ada pada bangsa ini, mau membangun generasi destruktif atau konstruktif.
Jika negeri ini terus mempertahankan ideologi sekuler, maka pendidikan akan semakin membusuk dan menemui kematian yang melahirkan generasi amoral dan calon pelaku kriminal. Apakah kita akan terus membiarkan lahirnya generasi amoral dan kriminal ?.
Jika pendidikannya beraroma busuk, maka hanya akan melahirkan manusia-manusia busuk. Jika negeri ini mau membuang ideologi busuk sekulerisme dan mengganti dengan Islam, maka pendidikan akan hidup kembali dan melahirkan manusia-manusia mulia. Tinggal mau atau tidak. Itu saja. *[KotaHujan,06/02/18 : 10.00 WIB]*
Alien Edu?
PENDIDIKAN SILUMAN
.
© Doni Riw
.
Siswo kesal. Tiap pagi musti ke sekolah. Badannya lelah, matanya mengantuk.
.
Sampai sekolahpun, ia masih harus patuh pada guru. Mengikuti perintah untuk melakukn hal-hal yang membosankan; yaitu belajar.
.
Mirip seorang nara pidana di lembaga pemasyarakatan, tiap hari dia harus menunikan kewajiban-kewajiban yang berat.
.
Baginya, kehidupannya tak seindah kehidupan merdeka yang ia saksikan melalui film, televisi, dan medsos.
.
Di dalam citra kehidupan ideal yang dia saksikan, pemuda seumuran dia itu semestinya hidup bersenang-senang; pacaran, main game, melaju di jalanan bareng geng, dlsb.
.
Siang itu Siswo tak kuat menahan kantuk. Ia tidur di kelas.
.
Dia terkejut setengah mati, ketika di tengah kenyamanan tidurnya, ada seorang guru yang merendahkan harkat dan martabat dirinya.
.
Di dalam masyarakat di mana Siswo hidup, hak asasi manusia itu wajib dihormati. Para pelanggar hak asasi layak untuk dibuly.
.
Maka demi menegakkan harga diri dan membela kebebasan diri, sang pengganggu itu dia pukul hingga mati.
Ya, siswo telah banyak belajar tentang kehidupan dari film, berita televisi, game, contoh perilaku para selebritis, politisi, tokoh masyarakat.
Pelajaran itu begitu kuat merasuk ke dalam benaknya.
Karena itulah pendidik yang sesungguhnya.
Sedangkan sekolah itu kini hanya sebuah penjara rutinitas yang membosankan.
.
Jogja, 6218
.
***
te.me/doniriw_channel
fb.me/doni riw