Sunday, February 4, 2018

Mad or crazy Now?

Orang Gila

Dunia tidak pernah sepi dari orang gila, ada yang benar-benar gila, juga ada yang dituduh gila, sampai yang nggilani juga ada

Yang gila betulan, dulu dilempari batu, sekarang orang gila bisa bunuh orang. Entah benar-benar gila atau menggila, tapi yang dipilih kok ya ulama, yang saat ini dikriminalisasi

Dalam Al-Qur'an, Allah membantah bahwa Nabi Muhammad adalah orang gila sebagaimana tuduhan munafikin dan kaum kafir. Sebab mereka tak punya lagi tuduhan lain

Yang jelas dalam Islam, orang gila sudah diangkat pena malaikat baginya, maka dia tak punya dosa, tak usah shalat, tak bisa disalahkan dan tak bisa diadili

Mungkin itu sebabnya, tiba-tiba orang yang ingin lepas dari tuduhan atau hukum, tiba-tiba banyak yang jadi gila atau mengaku gila, biar lepas dari semua hukuman, asal ada kerjasama dengan yang berwenang

Kalau sudah gila, ya sudah, tak bisa lagi dihukum, tak bisa lagi diadili, walau sudah separah apapun. Namanya orang gila, ya tak bisa lagi dinasihati dan diingatkan

Tapi ternyata di negeri ini banyak orang-orang waras dengan kelakuan yang sama bahkan lebih parah dari orang gila, mereka nggilani, sebab gila harta dan kekuasaan, dan siap melakukan apa saja demi itu semua

Bila yang brnar-benar gila itu orang biasa, masihlah bisa ditindak. Bila penindak dan penguasa yang sudah gila dan nggilani? Inilah masa yang harus banyan kesabaran

Doakan para ulama dan habaib, semoga mereka dijaga dari orang-orang gila dan nggilani, dari orang-orang yang gila kekuasaan dan harta, dari tipudaya mereka semua

Saturday, February 3, 2018

Friend till heaven?

:. You Are Your Friend

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bergaul dengan teman yang baik akan mendapatkan dua kemungkinan yang kedua-duanya baik. Kita akan menjadi baik atau minimal kita akan memperoleh kebaikan dari yang dilakukan teman kita.

Sebaliknya, bergaul dengan teman yang buruk juga ada dua kemungkinan yang kedua-duanya buruk. Kita akan menjadi jelek atau kita akan ikut memperoleh kejelekan yang dilakukan teman kita.

Maka pandai-pandailah dalam memilih teman, carilah orang yang bisa membantumu untuk mencapai apa yang engkau cari . Dan bisa mendekatkan diri pada Rabbmu, bisa memberikan saran dan petunjuk untuk mencapai tujuan muliamu.

Maka perhatikanlah dengan detail teman-¬temanmu itu, karena teman ada bermacam-macam
• ada teman yang bisa memberikan manfaat
• ada teman yang bisa memberikan kesenangan (kelezatan)
• dan ada yang bisa memberikan keutamaan.

Adapun dua jenis yang pertama itu rapuh dan mudah terputus karena terputus sebab-sebabnya. Adapun jenis ketiga, maka itulah yang dimaksud persahabatan sejati. Adanya interaksi timbal balik karena kokohnya keutamaan masing-masing keduanya. Namun jenis ini pula yang sulit dicari. (Hilyah Tholabul ‘ilmi, Bakr Abdullah Abu Zaid halarnan 47-48)

Manusia itu seperti barang tambang, ada kualitasnya bagus dan ada yang jelek. Seperti dijelaskan Rasulullah SAW:

”Manusia itu adalah barang tambang seperti emas dan perak, yang paling baik diantara mereka pada zaman jahiliyyah adalah yang paling baik pada zaman Islam jika mereka mengerti. Dan ruh-ruh itu seperti pasukan tentara yang dikerahkan, yang saling kenal akan akrab dan yang tidak dikenal akan dijauhi ” (HR Muslim)

Yuk dukung, dan viralkan sosmed Komunitas “TemanSurga”
IG : @temansurga
Fanspage: https://www.facebook.com/Teman-Surga-171098880141827/
Chanel telegram: https://t.me/temansurga

Roya

BENDERA YANG TERJATUH
Oleh : Anggota Muslimah Karim - Ragil Rahayu
Pernahkah smartphone anda terjatuh? Apa yang anda lakukan? Tentu mengambilnya. Bagaimana jika smartphone itu jatuh di got yang kotor dan basah? Anda tentu mengambilnya. Karena nilai smartphone itu setara dengan pengorbanan anda berupa tangan yang kotor dan bau busuk.
Bagaimana jika smartphone itu jatuh di jalan raya yang sangat ramai, kendaraan berseliweran, sehingga bisa bahaya jika anda mengambilnya. Mungkin anda mulai pikir-pikir untuk mengambilnya. Bagaimana jika suatu saat anda berwisata menyaksikan atraksi buaya, lalu tanpa sengaja smartphone itu jatuh ke mulut buaya. Akankah anda mengambilnya? Wah, opsi mengambil smartphone makin sulit diambil. Karena resikonya nyawa.
Bagaimana juga jika seandainya smartphone itu dijambret orang. Jika anda mengambilnya, dia akan menyabetkan senjata tajamnya ke anda. Atau menembakkan pistolnya ke tubuh anda. Dalam kondisi ini, rasa-rasanya orang akan lebih memilih kehilangan smartphone daripada kehilangan nyawa. Meski mahal harganya, smartphone masih bisa dibeli lagi. Tapi nyawa, tidak ada tokonya. Maka nyawa lebih berharga dari pada smartphone atau harta apapun. Demi mempertahankan nyawa,orang akan melakukan apa saja.
Namun tahukah anda, nyawa ternyata bisa kalah berharga dibanding selembar kain. Ya selembar kain.
Kisahnya terjadi di tahun ke 8 hijriyah. Rasulullah mengirim ekspedisi perang Mu'tah di timur Yordania. Jumlah kaum muslimin 3.000 orang. Sementara pasukan musuh 200.000 orang. Sungguh banyaknya jumlah kaum muslimin dan betapa sedikitnya jumlah musuh. Karena Allah swt bersama orang-orang yang mukmin.
Peperangan berlangsung dahsyat. Bendera umat Islam (liwa') dipegang oleh Zaid bin Haritsah ra selaku komandan perang. Maka Zaid bin Haritsah ra berperang mengorbankan nyawanya demi menjaga bendera, hingga syahid.
Bendera kemudian diambil alih oleh komandan kedua, Ja’far bin Abi Thalib ra. Beliau berperang habis-habisan hingga tangan kanannya terputus. Lalu bendera dibawa dengan tangannya kirinya hingga terputus pula dan merangkul bendera dengan dadanya hingga syahid.
Bendera selanjutnya dibawa komandan ketiga. Abdullah bin Rawahah ra. Beliau pun berperang hingga mati syahid.
Agar bendera tidak jatuh maka kaum muslimin menyerahkannya kepada Khalid bin Walid ra, maka beliau membawanya. Khalid berhasil memimpin perang mu'tah dengan membawa kemenangan.
Para komandan perang Mu'tah merelakan tangannya putus dan bahkan nyawanya melayang. Demi apa? Demi selembar bendera. Tapi bukan sekadar bendera.
Bendera itu adalah amanat dari Rasulullah saw. Di kainnya tertulis kalimat tauhid laa ilaaha illallah. Kalimat yang dijunjung seorang muslim selama hidupnya. Bendera itu pulalah yang akan kita cari di hari akhir nanti. Bendera yang dibawa oleh Rasulullah, tempat kita bernaung di bawah kibarannya.
Maka nyawa lebih rendah nilainya jika dibandingkan dengan meninggikan kalimat tauhid. Karena nyawa pasti hilang dengan kematian, entah sekarang atau nanti. Namun kematian membela bendera tauhid adalah kematian yang mengantarkan ke surga.
Zaid bin haritsah sudah dikabarkan masuk surga. Ja'far bin Abi Thalib yang putus kedua tangannya karena membela bendera tauhid, maka Allah swt memberinya sepasang sayap di surga. Abdullah bin Rawahah memiliki singgasana di surga.
Maka setiap muslim harusnya bangga terhadap bendera tauhid. Karena bendera itu amanat Rasulullah saw. Bendera itu pula yang dibawa Rasulullah kelak. Tentu di hari akhir nanti kita ingin menemui Rasulullah saw dan mendapat syafaat beliau. Maka carilah bendera itu di padang mahsyar.
Jika saat ini ada pihak-pihak yang mengkriminalisasi bendera Rasulullah maka kita patut bertanya. Apa yang mereka dapat? Uang, jabatan, kekuasaan? Jika demikian, berarti hal-hal duniawi nan fana tadi mereka anggap lebih berharga dari bendera Rasulullah saw. Maka kelak, jika dikumpulkan di padang mahsyar, masih beranikah mereka meminta syafaat Rasulullah saw dan bernaung di bawah bendera Beliau? Apa tidak malu?
Bendera tauhid ini disebut oleh Rasulullah saw. sebagai Liwa‘ al-Hamdi (Bendera Pujian kepada Allah). Rasulullah saw. bersabda, “Aku adalah pemimpin anak Adam pada Hari Kiamat dan aku tidak sombong. Di tanganku ada Liwa‘ al-Hamdi dan aku tidak sombong.” (HR at-Tirmidzi).
#RoyatulIslamHidupSelamanya

Friday, February 2, 2018

Movie

Udah Putusin Aja - The Movie

Sekitar tahun 2014, saya didatangi oleh Pak Ody Mulya, produser dari Max Pictures, dengan rencanan ingin memfilmkan buku "Udah Putusin Aja" di layar lebar

Pertanyaan saya waktu itu ke beliau, "Setahu saya bapak selama ini produksinya film horor plus-plus, sekarang kok tertarik dengan Udah Putusin Aja?" sambil senyum

Ternyata beliau sampaikan, genre horor plus-plus itu sudah masa lalu, kedepan beliau inginkan film yang juga bisa jadi edukasi bagi publik, yang Islami

Maka sayapun memberikan izin, andaikan judul "Udah Putusin Aja" itu mau diambil. Mudah-mudahan semangat dalam buku itu, bisa menginspirasi lebih banyak orang

Supaya lebih efektif, maka saya juga meminta pada tim "Warna Putih", yang berada di belakang acara-acara di TVRI dahulu, yang lebih paham dunia sineas, untuk mengawal

Mengapa perlu dikawal? Agar nilai-nilai yang ada dalam buku ini tetap bisa menjadi pesan kuat, yang bisa menyadarkan tiap yang menontonnya, pesan ketaatan

Maka sampai proses pembuatan film ini juga kita sangat hati-hati, mulai ceritanya, hingga tidak melibatkan proses sentuhan dengan yang bukan mahram

Bahkan penulis skenario dan sutradaranya sempat berganti beberapa kali supaya bisa memenuhi apapun yang kita sudah syaratkan, agar membawa nilai-nilai kebaikan

Tentu saya, tim Warna Putih, dan Pak Ody & tim Max Pictures sadar betul bahwa film ini jauh dari sempurna, mudah-mudahan niat baik semua jadi ampunan atas kekurangan itu

Tantangan film ini adalah pada mereka yang masih pacaran, agar tahu dan bertanggung jawab atas agama mereka, agar tahu bagaimana Islam mengatur cinta

Mereka yang belum masuk ke Masjid, mereka yang belum bergabung dalam lingkar-lingkar halqah, semaksimal yang kami mampu kami menghadirkan nilai Islam bagi mereka

Di awal Februari ini, "Udah Putusin Aja" akan ditayangkan, semoga menjadi awal kebaikan, bagi mereka yang ingin hadirkan karya seni, tapi tetap sesuai Islam 🙂🙂🙂
Ustadz Felix Siauw

Thursday, February 1, 2018

Dilan ta'at mungkinkah?

Dilan dan Industri Film
Pidi Baiq itu emang jago buat kata-kata. Awalnya, saya kenal nama Pidi Baiq, saat kuliah di Unpad. Melalui band The Panas Dalam, yang lagi hit saat itu. Judulnya “Sudah Jangan ke Jatinangor”. Buat Anak unpad angkatan 2000an pasti pada kenal.😃
Kini, Novelnya yang best seller, dilirik produser. Jadilah, 25 Januari 2018, film yang diadaptasi dari novel “Dilan 1990”, tayang perdana dibioskop. Bagaimana sambutannya? belum 4 hari tayang, tembus 1 juta penonton. Bombastik bukan?
Tulisan ini bukan untuk menilai isi film nya yah, apalagi buat resensinya. Tulisan ini hanya ingin mengungkap. Kenapa sih, film bergenre drama romantis remaja selalu laku dipasaran. Lihat deh, AADC, Jomblo. Sekarang Dilan? Seolah selalu asik untuk dibahas?
Budaya pacaran yang melekat dalam cerita Dilan, menjadi aktivitas yang tak bisa dipisahkan dari remaja.
Beratnya rindu, bersambutnya hati menjadi lelehan asa yang menggerogoti pikiran anak muda. Cinta sepasang kekasih, menjadi cerita yang tak usang dimakan zaman. Bahasa kerennya everlasting.
Opini bahwa cinta adalah keajaiban yang meruntuhkan rasionalitas. Rasa yang menghidupkan manusia. Terlanjur menjadi pakem warna yang harus dilewati oleh seorang insan.
Itulah nilai-nilai yang sengaja di tanamkan pada remaja, diberi pupuk agar subur dan terpelihara. Ya, Industri perfilman adalah pupuk yang menyuburkan ide tersebut.
Para pemuda disihir agar menjadi konsumen setia. Terlena dengan kata cinta versi mereka.
Padahal siapa yang memaknai cinta seperti itu? siapa yang membuat cinta berwujud demikian? Ini hanyalah opini untuk melanggengkan sebuah kepentingan.
Islam tidak mengenal pacaran. Interaksi laki-laki dan perempuan adalah ta'awun. Tolong menolong. Pancaran cinta dan rindu tak perlu berbalut rayuan gombal.
Dalam koridor pernikahan. Cinta adalah manifestasi taatnya seorang istri pada suami. Begitupun sebaliknya. Rindu adalah wujud tanggungjawab seorang suami terhadap istrinya.
Nah, bayangkan jika para pemudanya paham Islam, paham bahwa cinta tak diumbar. Paham bahwa kisah percintaan dengan pacaran adalah perkara yang buruk dan dilarang oleh agama.
Hancurlah Industri perfilman. Karena, para pemudanya akan sibuk menempa ilmu. Mereka akan mengisi masa muda nya dengan kebermanfaatan pada sesama. Membangun bangsa. Tak akan ada lagi yang mengantri dibioskop, hanya untuk menonton film picisan.
Tak akan ada lagi Dilan-dilan berikutnya. Yang menginspirasi mereka adalah, sosok Muhammad Alfatih sang penakluk Konstantinopel. Juga bukan Milea yang mereka puja-puji. Tapi Nusaibah sang pembela nabi yang mereka kagumi.
#opey3
#day1
#revowriter
#amk
#mamakngomongcintacieee
Oleh: Kanti Rahmillah

Reuni now and hereafter

"REUNI DI SYURGA"
oleh: Usth. Yanti Tanjung
Reuni seringkali momentnya indah berkumpul dengan teman, sahabat lama setelah beberapa tahun lamanya terpisah oleh ruang dan waktu. Pertemuan itu seakan mengingatkan kembali kenangan lama, bisa semasa sekolah, semasa pernah bersama dalam agenda tertentu yang tidak pernah terlupakan. Inilah fenomena reuni.
Ayah bunda adalah dua sosok yang paling lama bersama ananda dalam satu atap, dalam satu keluarga. Momen-moment indah tentunya pernah dialami sejak ananda lahir ke dunia, kebahagiaan tidak bisa dikata, hadirnya bayi mungil yang menghiasi rumah. Seiring dengan waktu anandapun tumbuh berkembang, tak bisa dibiarkan hidup tanpa sentuhan pengasuhan dan pendidikan yang yang benar agar ananda tetap terjaga dalam fthrah sucinya.
Namun saat anak dan orang tua terpisah oleh ruang,jarak dan waktu seringkali membuat kerinduan yang mendalam dan berharap bisa bertemu kembali saat anak-anak pulang ke rumahnya ke kampung halamannya. Semua ini bisa saja terjadi di dunia dan harapan itu tentu masih ada dan nyata di depan mata.
Bagaimana bila ayah bunda dan ananda terpisah oleh jarak dan waktu yang tak bisa dipastikan kapan terjadinya bahkan tak bisa memastikan kemana alamat yang harus dituju setelah perpisahan itu terjadi? Saat seorang ayah pulang keharibaan sang Khaliqnya, begitupun ibu kembali pada genggamanNya dan sang anak juga berhadapan dengan Allah adakah kepastian bisa berkumpul bersama itu bisa diprediksi, apa yang bisa menghubungkan mereka di akhirat nanti? Bisakah reuni ini terjadi ?
Yang menghubungkan kita orang tua dengan anak-anak bukanlah harta, bukan pula jabatan yang kita punya pun kehormatan, karena manusia tidak membawanya bersama kematiannya. Namun yang menghubungkan kita dengan anak-anak adalah keimanan, keimanan yang kita ajarkan kepadanya lalu mereka mengikuti keimanan itu dalam hidupnya. Inilah yang membuat amal shalih ayah bunda senantiasa mangalir hingga di regang kematiannya hattal jannah.
Maka jangan pernah menyerahkan persoalan keimanan itu pada siapapun karena ini adalah bagian kita orang tua. Jika kita serahkan pada orang lain lantas apa yang menghubungkan kita dengan ananda?
Dari Sa’id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu’anhuma, beliau berkata,
إن الله ليرفع ذرية المؤمن إليه في درجته و إن كانوا دونه في العمل ، لتقربهم عينه ، ثم قرأ : *( و الذين آمنوا و اتبعتهم ذريتهم بإيمان ) الآية ،ثم قال : و ما نقصنا الآباء بما أعطينا البنين “
“Allah mengangkat derajat anak cucu seorang mukmin setara dengannya, meskipun amal perbuatan anak cucunya di bawahnya, agar kedua orangtuanya tenang dan bahagia. Kemudian beliau membaca firman Allah yang artinya, “Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan” ( AthThuur : 21)
kemudian beliau berkata: dan kami tidak mengurangi dari bapak-bapak mereka apa yang kami berikan kepada anak mereka”
Dalam Tafsir Jalalain dijelaskan bahwa anak tersebut diangkat derajatkan setara orang tua mereka agar mereka bisa berkumpul besama dengan anak-cucu mereka di surga kelak,
{ألحقنا بهم ذرياتهم} المذكورين في الجنة فيكونون في درجتهم وإن لم يعملوا تكرمة للآباء باجتماع الأولاد إليهم
“Maksud dari “Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka” yaitu, anak-cucu mereka kelak di surga, sehingga jadilah anak-cucu mereka sama derajatnya dengan mereka walaupun anak-cucu mereka tidak beramal seperti mereka, sebagai penghormatan terhadap bapak-bapak mereka agar bisa berkumpul dengan anak-cucu mereka (di surga kelak)”
Jika yang menghubungkan reuni kita di dunia dengan teman sejawat adalah angkatan saat kita sekolah, maka di akhirat adalah keimanan, ilmu yang kita ajarkan dan amal shaleh yang kita ukir dalam dada mereka. Sungguh kerinduan kita menjalani hidup abadi bersama di surga Firdaus adalah reuni sejati.
Reuni kita tidak akan pernah terjadi dengan anak-anak jika kita adalah orang tua durhaka yang mengabaikan peran pendidikan untuk mereka. Atau reuni kita terjadi di tempat yang menyesakkan, menyakitkan dan penuh penderitaan di nerakanya Allah na’udzubillahi mindzalik.
Wallaahu a'lam bishshowab
==============================
Raih Amal Sholih dengan Ikut Serta Menyebarkan Status ini.
==============================
Facebook : www.facebook.com/WadahAspirasiMuslimah
Twitter : www.twitter.com/Muslimah_Bogor
Instagram: www.instagram.com/muslimah_bogor
Telegram : https://t.me/WadahAspirasiMuslimah

Naruto Now?

Ustadz Felix Siauw
Masa Fitnah Di Konohagakure

Kisah ini terjadi jauh setelah masa Naruto jadi Hokage, masa fitnah di Konohagakure, dimana Hokage justru jadi korban kugutsu no jutsu-nya ninja yang masih misterius, hingga justru membawa Konohagakure pada kehancuran

Hokage melarang penggunaan jutsu apapun, bahkan melarang praktek para ninja, dan bahkan melabeli radikal "shinobido", the way of ninja yang selama ini jadi kebanggaan Konohagakure

Kepala Konoha Keimu Buntai, adalah orang yang suka buat masalah dengan pernyataannya, baru-baru ini, mengklaim bahwa hanya 2 klan saja yang berkontribusi dalam memenangkan perang dunia shinobi ke-4

Tentu saja pernyataan ini memicu kemarahan klan-klan lain yang tak kalah penting dengan klan Uchiha dan klan Senju. Anehnya, kepala keamanan Konoha ini malah marah dan menyalahkan yang menyebarkan potongan videonya, dan Hokage tak bisa berbuat apa-apa, tanpa daya

Pernyataan Kepala Konoha Keimu Buntai ini jelas memecah-belah desa Konoha. Sayangnya petugas keamanan semuanya dibawahnya, hingga desa ini penuh ketidakadilan.

Semua berawal dari keinginan ninja misterius, yang kabarnya berasal dari luar Konohagakure, kemungkinan keturunan Kaguya Otsutsuki, ratu bertanduk, sesepuh dengan banyak keahlian khusus, dengan akal bulus tersembunyi

Program Hokage baru ini memang sangat aneh, pikir saja, masak sih desa ninja tapi tidak boleh mempelajari ninja, shinobi tapi tidak boleh melatih jutsu, apalagi mempraktekannya. Bahkan taijutsu saja dilarang

Alasannya, karena dunia sudah berubah, tidak perlu lagi "the way of ninja", tidak usah belajar membela diri, tidak perlu meyakini kebenaran dan keadilan. Pokoknya nurut saja

Padahal, ninja misterius yang mengendalikan Hokage ini telah memasang genjutsu yang sangat canggih, hingga bisa membuat mereka yang lemah cakranya, untuk berhalusinasi akibat pencitraan yang dibuatnya

Hasilnya sekarang? Konohagakure dijajah bangsa asing dan juga aseng, mereka tak boleh melawan, karena keyakinan "shinobido" atau the way of ninja sudah dicap radikal, lambang Konoha yang terkenal itu pun sudah dicap bendera teroris, miris

Tapi para shinobi sejati tak pernah berhenti berjuang. Mereka tak punya urusan dengan kekuasaan, hanya mereka merindu pada keadilan dan kebenaran

Note: Sudah, dibaca saja, jangan ditafsir-tafsirkan 🙂🙂🙂